Shalat, Jelmaan Ibadah yang Terindah

Shalat, Jelmaan Ibadah yang Terindah

oleh Ibn Mardhani pada 20 Oktober 2010 jam 0:59

Filosofi dari penciptaan manusia adalah untuk penghambaan dan pengabdian kepada Allah, Tuhan pencipta alam. Itulah yang ditegaskan dalam al-Quran. Di Surah al-Dzariyat ayat 56 Allah Swt berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembahKu.”

Shalat adalah amalan ibadah yang paling tinggi nilainya. Shalat adalah bentuk munajat, doa dan penghambaan yang paling indah. Semua nabi dalam pesannya selalu menekankan kepada umat manusia untuk menegakkan shalat. Saat meninggalkan istri dan putranya yang masih bayi bernama Ismail di sebuah padang tandus yang tanpa tanaman, Nabi Ibrahim (as) mengatakan bahwa hal itu dilakukannya supaya mereka menunaikan shalat. Ketika masih berada di ayunan dan Allah mengizinkannya untuk berbicara, Nabi Isa (as) berkata, “(Tuhanku) berpesan kepadaku untuk menunaikan shalat dan zakat.”

Nabi Muhammad Saw sebagai penutup silsilah para nabi menyebut shalat sebagai tiang agama. Dalam sebuah hadis, beliau dengan indah menjelaskan kesenangannya yang mendalam kepada shalat. Beliau bersabda, “Allah menjadikan shalat sebagai cahaya mataku dan membuatnya menjadi amalan yang sangat aku sukai seperti orang lapar dan dahaga menyukai makanan dan air. Orang lapar akan merasa kenyang setelah makan dan orang yang dahaga akan puas setelah meminum air sedangkan aku tak pernah merasa puas dengan shalat.”

Sebagai negara Islam yang menerapkan sistem pemerintahan Islam, Republik Islam Iran menaruh perhatian yang besar kepada masalah shalat. Beberapa waktu lalu di Iran digelar Konferensi Nasional Shalat ke-19. Konferensi yang digelar setiap tahun ini ditujukan untuk mensosialisasikan shalat di tengah masyarakat dan menjelaskan peran shalat dalam meningkatkan derajat spiritual manusia. Konferensi kali ini mengangkat tema ‘Shalat, Masjid dan Keluarga’.

Keluarga sebagai institusi kecil masyarakat dan masjid sebagai tempat ibadah adalah dua pusat yang penting dalam membangun kesempurnaan individu dan masyarakat. Jelas bahwa jembatan yang memadukan dua pusat penting ini memegang peran yang sangat signifikan dalam membangun pendidikan agama dan kepribadian masyarakat.

Salah satu hal yang diangkat dalam konferensi kali ini adalah metode yang benar dalam menarik hati para pemuda ke lingkungan agama termasuk masjid dan menjaga kesinambungan hubungan mereka dengan spiritualitas.

Shalat adalah bentuk munajat yang paling suci dan tulus di hadapan Allah, Tuhan Maha Asih yang telah menciptakan alam semesta ini, Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuat, dan Maha Pengatur. Jelas bahwa Tuhan yang Maha Sempurna, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana tidak pernah memerlukan ibadah dari hamba-hambaNya. Justeru manusialah yang perlu beribadah dan tunduk serta khusyuk di hadapan Allah, menjalin hubungan denganNya dan memanfaatkan lautan anugerahNya yang tak terhingga. Dengan jiwa dan pemahaman seperti inilah seseorang berdiri di mihrab untuk melaksanakan shalat dan menyadari bahwa dia sedang berada di hadapan sumber kekuatan dan kasih sayang hakiki.

Kekhusyukan dalam menjalankan shalat akan mempererat hubungan hati manusia dengan Khaliqnya. Dengan begitu ia akan merasakan dekat dengan Allah dan dalam kehidupannya akan selalu waspada untuk tidak tergelincir dalam dosa yang membuat murka Allah. Buah dari itu adalah keterhindaran dari dosa. Itulah makna dari apa yang Allah firmankan dalam surat al-Ankabut ayat 45. “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”

Dalam kitab Nahjul Balaghah, khotbah ke-196, Imam Ali (as) menjelaskan berbagai dimensi pendidikan dari shalat. Beliau berkata, “Shalat memberikan ketenangan pada diri manusia, membuat matanya khusyuk dan tertunduk, menjinakkan jiwa pembangkang pada dirinya, dan menyingkirkan rasa sombong dan takabur.”

Saat-saat ketika seseorang melepaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan berdiri melaksanakan shalat, ibadah yang penuh kekhusyukan dan ketenangan, maka sebenarnya dia sedang melangkah di sebuah alam yang dipenuhi cahaya benderang yang tak ada tandingannya. Sebagian besar kesulitan yang dialami oleh ruh dan jiwa manusia akan teratasi saat berlindung di bawah naungan rahmat Ilahi. Dalam pandangan Islam, sumber kekuatan jiwa dan psikologis manusia adalah jalinan hati dan hubungan dengan Allah Swt. Sebaliknya, penyakit kejiwaan dan masalah etika yang melilit umat manusia karena jauh dari Allah dan melalaikan zikir kepadaNya.

Dalam perputaran sehari semalam manusia mungkin mengalami tekanan jiwa yang berujung pada serangan berbagai penyakit kejiwaan yang berbahaya. Karena itu, manusia harus selalu mencari pertolongan dari kekuatan yang tak berbatas dan sumber kehidupan.

Dari sanalah ia bisa memperoleh kekuatan jiwa dan mental. Atas dasar itulah, di dalam al-Qur’an, Allah Swt memerintahkan manusia untuk meminta pertolongan dari kesabaran dan shalat kala ditimpa musibah dan kesulitan.

Sebagaimana yang tadi sudah kami singgung, beberapa waktu lalu di Iran digelar Konferensi Nasional Shalat ke-19 yang mengangkat tema masjid dan keluarga. Dalam konferensi tersebut, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengirimkan pesan tertulis yang menyebutkan perbedaan utama antara masjid dan tempat ibadah agama yang lain. Dalam pesan tertulis itu beliau menyatakan: “Membangun sebuah sentra bernama masjid, pertama-tama di Quba’ lalu di Madinah adalah salah satu inovasi Islam yang paling indah dan cerdas di awal kelahiran masyarakat Islam. Masjid adalah rumah Allah dan rumah manusia; pusat zikir, mikraj spiritual, serta medan ilmu, jihad dan manajemen keduniaan; masjid adalah tempat ibadah dan markas politik. Kesemua itu adalah dua sisi saling berkaitan yang mengenalkan masjid dalam budaya Islam sebagai sentra yang berbeda dengan pusat-pusat ibadah agama lain. Di masjid, gelora dan kekhusyukan ibadah yang murni berbaur dengan gairah kehidupan yang bersih, cerdas dan sehat. Masjid mendekatkan individu dan masyarakat ke posisi idealnya dalam Islam. Masjid adalah manifestasi perpaduan antara dunia dan akhirat.”

Rahbar menyinggung peran para ulama dan rohaniawan yang saleh, cerdas, pandai, dan peduli di masjid ibarat peran dokter dan perawat di rumah sakit. Dia menjadi spirit dan jiwa kehidupan bagi masjid. Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan pula peran imam jamaah di masjid-masjid dan kewajibannya untuk mempersiapkan diri menjalankan peran sebagai dokter spiritual bagi masyarakat. Dalam pesan tertulisnya, Pemimpin Besar Revolusi Islam memaparkan solusi yang tepat untuk memakmurkan masjid dengan menyatakan,

“Masjid harus menjadi tempat belajar ilmu tafsir dan hadis, mimbar bagi ilmu-ilmu sosial dan politik, serta pusat nasehat dan penempaan akhlak. Suara penuh kasih dari para pengelola masjid harus dapat menarik hati para pemuda yang masih suci. Kehadiran para pemuda dan semangat Basij harus bisa menghidupkan dan menggairahkan lingkungan masjid serta membangkitkan optimisme akan masa depan. Antara masjid dan pusat-pusat pendidikan di setiap tempat harus terjalin kerjasama dan hubungan yang jelas dan tepat.

Alangkah baiknya jika pelajar teladan di setiap tempat mendapat penghargaan dari tangan imam jamaah di dalam masjid dengan disaksikan oleh masyarakat setempat. Masjid harus bisa menjalin dan mempererat hubungan dengan para pemuda yang berniat membangun rumah tangga; dengan mereka yang mengukir prestasi di bidang keilmuan, sosial, seni dan olahraga; dengan mereka yang menaruh kepedulian kepada orang lain sebagai tekadnya yang tinggi; dengan orang-orang berduka yang mencari tempat berkeluh kesah; bahkan dengan anak-anak bayi yang baru lahir ke dunia. Di semua tempat, masjid harus menjadi tempat berlindung yang aman serta sumber kebaikan dan berkah.”

Konferensi Nasional Shalat ke-19 mengangkat berbagai tema penting diantaranya manajemen agama dalam keluarga, partisipasi perempuan di masjid, serta peran media massa dalam mendorong keluarga untuk melaksanakan shalat dan berpartisipasi di masjid. Konferensi ini menghasilkan banyak makalah dan solusi ilmiah tentang hubungan shalat dan keluarga. (IRIB)

Penulis : Ibn Mardhani

(http://www.facebook.com/pages/ismardhani-photography/76219390588)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Aqidah, Iman, Islam, Sholat, Tauhid dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s